CERPEN MOTIVASI "MIMPI DI BUMI EROPA"

 

MIMPI DI BUMI EROPA

Pagi yang cerah dengan semilir angin menyegarkan bunga bunga yang sedang merekah. Syahid adalah nama sorang remaja berusia lima belas tahun. Ia sedang menjalankan proses pendidikan di sebuah pondok pesantren. Ia terlihat sedang memegang kitab berukuran kecil dan nampak di dalamnya tertulis syair syair yang amat panjang. Mungkin kitab ini sangat terkenal di kalangan para santri karena kandungan dari kitab itu adalah kunci memahami gramatika bahasa arab, apalagi kalau bukan kitab alfiyyah ibnu malik. Ya benar sekali. Kitab ini dinamakan alfiyyah karena mengandun seribu bait lebih.. walaupun begitu Kitab kecil sangat keramat di kalangan para santri. Setiap pagi syahid selalu konsisten dalam menjaga hafalan kitabnya itu. Walaupun ia belum mampu menghafal semua bait di dalamnya.

Setelah hampir satu jam murojaah, syahid beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke sebuah kamar berukuran kecil yang terletak di samping kebun milik pesantren. Menjadi seorang santri sangat di tuntut untuk pandai pandai mengatur waktu. Setengah jam lagi syahid harus berangkat kesekolah. Ia segera mengganti seragamnya dan menyiapkan segala sesuatu yang akan ia bawa kesekolah. Di pesantren ini, syahid terbilang murid yang cukup berprestasi. Ia sering mewakili pondok pesantrennya untuk mengikuti perlombaan perlombaan dan acara acara lainnya yang menyangkut keilmuan dan kesantrian.

Syahid adalah murid yang sangat disiplin. Ayahnya sudah menanamkan prinsip bahwa waktu adalah hal yang sangat berharga. Ia selalu datang ke sekolah tepat waktu.

“assalamu’alaikum teman teman” ucapnya ketika sampai di depan pintu kelas.

“wa’alaikumussalaam hid. Sini hid gabung, kita semua lagi ngerjain tugas bahasa arab  kemarin nih, ya kali aja kamu bisa bantu. Hehe” ucap temannya yang bernama syamsul.

Syahid berjalan menuju ke teman teman nya yang nampak sibuk dengan tugas dari guru bahasa arab kemarin.

“sini aku bantu teman teman. Tapi aku gak akan bantu jawab..coba tanyakan apa yang kalian tidak mengerti.” Syahid menawarkan bantuan

“hid, coba kamu lihat soal nomor dua puluh di halaman lima. Yang di maksud dengan huruf illat itu apa ya?” haikal, salah satu teman syahid bertanya.

“ oooh huruf illat itu artinya huruf yang berpenyakit atau lebih gampangnya huruf illat itu sama kayak huruf mad dalam ilmu tajwid. Jumlahnya ada tiga yaitu alif, wawu, dan ya.” Jelas syahid.

“ terima kasih hid.”

            Ketika mereka sedang asyik mengerjakan tugas, seorang pria berkaca mata dan berkulit putih datang memasuki kelas dengan membawa laptop juga beberapa buku. Ia juga membawa seseorang yang entah mereka belum mengenalinya.

            “ assalamu’alaikum.” Ucapnya

            “ wa’alaikumussalaam ustadz.” Sahut semua murid dengan serentak.

            “ anak anak ku yang bapak cintai, hari ini kita kedatangan tamu yang spesial. Beliau adalah alumni pondok tercinta kita. Namanya adalah Dr. Hamdan Rahmatullah. Beliau salah satu alumni yang berhasil menjadi dosen di bumi eropa. Beliau datang kesini karena ingin berbagi pengalaman dengan kalian Bapak harap kalian bisa mencontoh hiruk pikuk perjuangan dan semangat beliau. Mangga pak hamdan..” sang ustdaz mempersilahkan pak hamdan untuk berbicara.

            Semua siswa terdiam dan memperhatikan dengan seksama apa yang Dr. Hamdan sampaikan. Syahid terlihat sangat serius mendengarkan. Setelah panjang lebar bercerita, kelas pun selesai. Semua siswa keluar kelas untuk istirahat.

            Syahid berjalan menuju ke perpustakaan karena ia lebih suka menghabiskan waktu istirahatnya itu untuk membaca agar uang saku yang dimiliki nya bisa lebih hemat sedikit dan bisa di tabung. Di saat ia sedang asyik membaca tiba tiba asa suara yang memanggil nya.

            “hei nak, kayaknya kamu serius sekali membacanya.” Ucap seseorang itu

            “eh, pak hamdan.” Syahid lalu mencium tangan beliau sebagai tanda ta’dzim dan mencerminkan akhlaq seorang murid kepada guru.

“kamu gak ikut istirahat dan main dengan teman temanmu hid?” tanya pak hamdan.

“tidak pak, saya lebih suka di perpustakaan karena akan lebih menghemat pengeluaran dan menambah pengetahuan. Hehe” jelas sayhid

            Terjadilah obrolan antara mereka berdua. Dr hamdan menanyakan perihal cita cita kepada syahid. Dan syaihid menjawab bahwa ia sangat ingin menjadi dosen seperti beliau. Karena syahid sangat suka membaca, apalagi membaca novel, ia sangat ingin menjadi penulis yang hebat seperti idolanya yakni habiburrahman el shirazy.

            “Hid, kalau menurut bapak, kamu itu cocok kalo ambil kuliah ke luar negeri. Ngomong ngomong kamu punya hafalan al quran gak?”

            “syahid punya pak cuman baru dua belas juz pak, emang bisa ya?”

            “waaah itu mah bisa banget hid. Karena kamu masih kelas satu aliyyah, mending sekarang kamu fokus dulu belajar dan fokus nambahin hafalan qurannya, syukur syukur kamu bisa khatam ketika sudah kelas tiga, nanti jika kamu minat hubungi bapak saja lewat ustadz syakur.”

            Mendengar tawaran tersebut hati syahid gembira. Ia senang karena ada yang ingin membantunya menuju cita citanya. Tak lama setelah obrolan di perpustakaan, bel masuk berbunyi dan syahid kembali melanjutkan kegiatan belajarnya.

            Beberapa jam kemudian pun bel pulang berbunyi. Syahid pulang ke asrama bersama temannya yang bernama syamsul. Ia menceeritakan apa yang tadi ia bicarakan dengan Dr.hamdan dan respon dari syamsul membuat semangatnya bertambah.

            Saat di jalan, tanpa sengaja ia bertemu dengan gadis sekelasnya. Hanya saja ia adalah primadona di sekolah. Karena selain cantik, dia juga cucu dari pengasuh pondok pesantrennya.

Namanya Alinda fuzi maftuha.

            “hei hid, assalamu’alaikum” sapa linda

            “wa’alaikumussalam” kemudian syahid hanya berlalu.

            Sepulangnya di asrama syahid mengambil mushaf dan dan memurojaah hafalannya.

Mengingat nasehat dari pak hamdan tadi. Semenjak hari itu syahid lebih sering isolasi diri demi memfokuskan target dan cita citanya.

            Hidup adalah perjuangan, perjuangan butuh pengorbanan berani hidup berani berjuang, tak berani berjuang janganlah hidup, takut berkorban jangan lah berjuang.  Karena terlalu fokus mengejar cita citanya, satu demi satu teman teman yang dahulu akrab dengannya kini menjauhinya. Sudut pandang setiap manusia memang seperti itu, syahid sadar perlahan ia harus menerima keadaan ini. Meskipun ia mulai kesepian.

            Hari hari yang dahulu terisi dengan canda dan tawa bersama teman teman, kini tak seramai dan semenyenangkan dahulu.

            Siang dan malam silih berganti, dari pekan ke pekan, dari bulan ke bulan dan dari tahun ke tahun sudah berubah. Tak terasa kini syahid sudah kelas dua belas aliyah, dan hafalannya hampir selesai. Ia berusaha agar membuat hidupnya seperti semula ia ingin teman temannya mengerti bahwa selama ini ia hanya sedang fokus mengejar target. Ia meminta maaf kepada semua teman temannya, namun hanya sebagian dari mereka yang mengerti. Syamsul yang menjadi sahabat karibnya dahulu kini seolah olah menjadi seperti orang asing. Namun syahid tidak ingin hubungan persahabatannya berakhir seperti itu. Akhirnya ia memutuskan untuk meminta maaf kepada syamsul.

            Sore ini syahid pergi menuju ke masjid yang sering di kunjungi oleh teman karibnya, syamsul. Dugaan syahid benar. Sore itu syamsul ada di masjid tersebut. Syahid menghampiri syamsul.

            “assalamualaikum sul.”  Salam syahid

            “ wa’alaikumussalaam hid” jawab syamsul.

            “aku minta maaf syul atas segala sifat sifat buruk ku kepadamu kemarin kemarin. Maaf jika aku selalu menjauhimu, jarang mengikuti ajakanmu dan jarang membantumu. Aku sangat minta maaf.”

            “ hid, seharusnya kamu itu tidak usah seegois itu, apakah kamu menganggap teman itu hal spele, hid. Oke kali ini aku maafin. Aku juga minta maaf kepadamu, sadar atau tidak sadar kita sama sama egois terima kasih atas pelajaran yang kamu berikan. Gara gara kita gak terlalu akhir akhir ini aku juga berhasil mengkhatamkan kitab alifiyyah ku.” Jelas syamsul panjang lebar.

            Keadaan kehidupan syahid mulai membaik, sudah mereka berdua putuskan untuk mengejar mimpi masing masing.

            Beberapa bulan berlalu, waktu kelulusan pun tiba. Syahid pun sudah mengkhatamkan hafalan qurannya. Dan ia sudah menghubungi dr. Hamdan untuk mengikuti program beasiswa ke turki. Syahid merasa bahwa impiannya untuk ke bumi eropa semakin dekat.

            Tanggal dua puluh mei dua ribu tujuh belas acara imtihan akhirussanah dilaksanakan. Kini syahid dan syamsul memilih jalan masing masing mengejar impian. Setelah acara usai, syahid dan syamsul pamit ke pengasuh pondok bersama orang tua masing masing. Selepas itu syamsyul dan syahid berpelukan sebagai tanda perpisahan.

            Hari hari telah berlalu, syahid sibuk mengurus berkas berkas dan pasport dirinya untuk keluar.

            “bu, syahid pamit ya bu. Mau ke kantor imigrasi untuk membuat pasport.” Ucap syahid pada sang ibu.

            “ya sudah nak, hati hati.”

            Sore itu syahid menuju kantor imigrasi menggunakan motor, dalam hatinya tak henti henti bershalawat dan mengucap syukur kepada sang ilahi. Namun semesta sedang ingin menguji ketabahan syahid. Motor yang ia kendarai tiba tiba mogok dan berhenti di tengah jalan hingga ia tertabrak dari belakang oleh mobil yang sedang mengangkut sayuran.

            Skiiiiiik.......(suara motor syahid tiba tiba berhenti)

            “astaghfirullah, kenapa” tiba tiba dari belakang terdengar klakson mobil dengan bunyi yang sangat keras. Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttt...awas maaas. Gubraak

            Syahid terkapar dan tak berdaya, kakinya serasa mati. Ia melihat orang orang histeris kemudian ia terlelap dan tak sadarkan diri. Akhiirnya ia di bawa ke rumah sakit terdekat. Setelah beberapa jam dan mendapatkan penanganan dari dokter. Syahid di vonis lumpuh karena kaki kanannya tertindih dan mengenai saraf.

            Mata syahid terbangun. Ia kebingungan.

            “ astaghfirullah, dimana aku.” Rintihnya. Ibu ssyahid yang sedari tadi menemaninya merasa senang karena putranya sudah siuman.

            “bu, aku kenapa. Aku dimana. Kok kaki kananku serasa mati ya” mendengar rintihan tersebut ibu syahid seedih bukan main. Jika ia mengatakan bahwa syahid lumpuh, ia takut putranya akan begitu terpukul. Namun mau tidak mau, putranya harus siap menerima kenyataan bahwa tuhan sedang mengujinya. Akhirnya sang ibupun mengatakan keadaan syahid sekarang.

            Syahid putus asa, matanya mengalirkan air dengan deras, tak kuat menahan tangis. Namun ia tak mau menyerah. Ia yakin bahwa ia bisa sembuh dan mengejar mimpinya ke bumi eropa.

            Hari demi hari berlalu, syahid mulai membiaasakan kakinya agar bisa berdiri. Namun syangnya masih membutuhkan banyak waktu agar kakinya bisa kembali di ajak kerja sama dengan tubuhnya. Ia hanya bisa pasrah. Setiap malam syahid memohon kepada tuhan agar ia segera di swmbuhkan.

            Sabar adalah kunci keberhasilan, syahid dengan istiqamah dan konsisten setiap hari melatih kakinya, hingga dengan jarak kurang dari satu tahun kakinya bisa kembali normal. Bisa di bilang ini adalah sebuah keajaiban.

            Setelah kakinya pulih, syahid kembali meneruskan perjuangannya untuk mengejar cita cita. Dan atas kesabarannya tuhan memberkatinya dengan keberhasilan. Ya. Syahid berhasil mendapat beasiswa di turki. Ia menjalankan pendidikan di sana selama lima tahun dengan mengikuti program fast track.

            Akhrinya syahid lolos sebagai mahasiswa dengan nilai camlaude dan ia di tarik oleh pihak universitas untuk memberikan sumbangsihnya. Ya dia dia di tarik menjadi dosen. Dan syahid berhasil menggapai mimpinya di bumi eropa.

Disinilah kita belajar bahwa kesuksesan hanya di capai oleh kesabaran atas pengorbanan dan semangat dalam perjuangan.

 

           

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Kabar Pendidikan di indonesia saat pandemi

Puisi Rindu