Apa Kabar Pendidikan di indonesia saat pandemi
Sejak awal tahun 2020 dunia di hebohkan dengan virus yang pertama kali muncul di wuhan, china. Virus ini sangat cepat bermutasi, hingga penularannya pun terbilang mudah. Gejala yang di timbulkan dari orang yang terkena virus adalah batuk, demam tinggi, hilangnya fungsi Indra perasa, badan terasa pegal pegal. Berbagai macam alat dan obat di dunia medis di keluarkan demi mengobati pasien yang terjangkit Corona virus ini. Akan tetapi belum ada obat yang pasti, yang dapat menyembuhkan virus ini. Karena penyebaran virus ini sangat cepat dan mudah, akibatnya beberapa kegiatan sehari hari masyarakat berubah seratus delapan puluh derajat. Pemerintah pun dibuat kebingungan mengatasi masalah ini, terutama pada ruang lingkup pendidikan.
Pendidikan di Indonesia yang terbiasa di selenggarakan secara tatap muka, kini harus di ganti dengan sistem pendidikan daring. Perubahan ini tentu saja menimbulkan banyak polemik di kalangan masyarakat juga di kalangan pelajar. Hal ini di sebabkan tidak semua pelajar di Indonesia di latar belakangi oleh keluarga yang berkecukupan, banyak dari mereka juga dari kalangan yang serba kekurangan
Sistem lockdown yang di galakkan oleh pemerintah tidak berjalan begitu baik, PSBB ( pembatasan sosial berskala besar ) yang diterapkan di setiap daerah tidak di hiraukan oleh masyarakat, sebagian mereka beralasan bahwa jika seperti itu terus maka ekonomi mereka akan menipis dan tak ada lagi biaya untuk hidup.
Beberapa bulan pandemi, pemerintah mulai memberikan bantuan bantuan untuk pelajar kurang mampu, agar mereka bisa mudah mengakses pendidikan daring yang diterapkan di sekolah nya.
Disisi lain pemerintah Indonesia juga berusaha menemukan vaksin untuk mengatasi virus ini, bukan hanya pemerintah dalam negeri namun juga pemerintah dari berbagai negara saling bahu membahu menggerakkan kegiatan penelitian dalam usaha menemukan vaksin dari virus ini.
Setelah beberapa lama sistem pendidikan daring berjalan, polemik di kalangan pelajar dan masyarakat semakin menjadi jadi. Mereka yang setuju kebijakan pemerintah ini beranggapan bahwa ini adalah keputusan terbaik. Namun bagi mereka yang tidak menyetujui hal ini beranggapan bahwa sistem pendidikan daring adalah hal yang kurang efektif, karena mereka harus berhadapan dengan sinyal yang kadang susah, kuota internet yang kadang menipis, belum lagi kalau sudah tidak ada lagi uang untuk membeli kuota, kendati pemerintah sudah memberikan bantuan kepada pelajar kurang mampu dan bantuan ke sekolah sekolah yang sarpras nya kurang, tetap saja masih belum bisa menangani semua polemik ini.
Hampir Setahun virus ini menjadi pandemi, beberapa daerah di Indonesia sebagian ada yang berstatus zona merah dan zona hijau, karena polemik yang sudah di bahas di atas, pemerintah menerapkan kebijakan belajar tatap muka di perbolehkan di daerah yang berstatus zona hijau, itupun tetap mematuhi protokol kesehatan yang berlaku.
Setelah kebijakan itu di buat, jumlah masyarakat yang terjangkit virus ini semakin meningkat, membuat pemerintah kembali resah, akhirnya kebijakan ini di tutup. Namun di pertengahan Januari kabar baik menyambangi dunia, karena vaksin Corona telah di temukan, kendati masih terjadi beberapa polemik di kalangan masyarakat dan berbagai macam hoax tersebar namun adanya vaksin membuat pemerintah cukup lega, karena impian untuk menciptakan hierd immunity perlahan menjadi nyata. Setelah vaksin sudah di temukan kegiatan belajar tatap muka di perbolehkan di daerah yang memiliki status zona hijau dan tetap menerapkan protokol kesehatan.
Pada intinya, adanya virus Corona ini sebaiknya kita jadikan pelajaran yang berharga. Kita ambil hikmah dari kejadian ini semua, tak ada guna mengeluh terhadap keadaan, sekarang yang bisa kita lakukan adalah meningkatkan kesadaran diri bahwa sehat itu mahal dan hal sekecil apapun tidak boleh di anggap remeh, karena Corona juga berawal dari kebiasaan buruk yang di spelekan
Komentar
Posting Komentar