Puisi Rindu
AFRODIAKSI RINDU Bagaskara mulai menyeruak kan sinarnya Hingga menampilkan keindahan buana Tanpa sengaja kutemukan Sosok dewi nirmala Kaki ku beranjak menghampirinya Dewi itu menyunggingkan senyum dari bibirnya. Dua bola mataku terpesona. Aku tersipu. Dia pergi sembari melambaikan tangannya padaku. Tanpa sengaja skenario semesta mempertemukan diriku kembali dengannya. Kami akhirnya saling mengenal, dekat, bersahabat, akhirnya terikat. Terikat dan terjerat selaksa duri yang menancap pada kulit, akan terasa sakit jika di cabut tiba tiba. Begitulah kelanjutan kisahku dengan sang nirmala. Cinta yang membelenggu tanpa ampun mengamuk dalam kata yang ambigu, nirmala pergi tanpa kata. Ia hanya meninggalkan afrodiaksi rindu dan luka yang harus kutunggu keringnya agar sirna segala lara.